Selasa, 30 November 2021

Kekayaan Terbesar sepanjang Hidup setiap Jiwa Manusia

Sungguh Allah Maha Kaya, sampai semua manusia yang diciptakan Allah dari jaman Adam dan Hawa diberikan “Kekayaan terbesar” dalam hidupnya .  Semua Manusia?  Ya, dan jika masih ada manusia yang bilang Allah tidak adil, itu karena mereka masih menggunakan Mata Fisiknya yang melihat, “kok ada manusia yang Kaya dan yang Miskin?”. “Kok ada Manusia yang Bahagia dan Sengsara?”, inilah kalimat-kalimat yang mungkin muncul di benak manusia yang terlalu sering menggunakan Mata Fisik dan jarang mengaktifkan Mata Batin atau Mata Hati nya.  Orang-orang seperti ini yang akan kesulitan untuk memiliki Jiwa yang Tenang karena selalu merasakan konflik Batin antara apa yang dilihat dengan apa yang diyakini.

Selain Maha Kaya, Allah juga tunjukkan kepada Manusia bahwa Dia juga Maha Adil.  Saking adilnya, sampai “Kekayaan Terbesar" dalam Hidup Manusia pun diberikan kepada setiap manusia yang Allah ciptakan.  Tidak ada satu pun manusia yang diberikan kemiskinan.  Semuanya diberi kekayaan oleh Allah SWT.  Lantas, apakah "Kekayaan Terbesar" tersebut yang Allah berikan dalam Hidup setiap jiwa  Manusia?  Dan bagaimana cara Allah memberikan “Kekayaan” tersebut kepada setiap manusia?  

Cara Allah memberikan “Kekayaan Terbesar” dan secara Adil kepada semua manusia, yaitu dengan menciptakan setiap fisik manusia disertai dengan Hati dan Jiwa agar dapat menikmati karunia Allah dalam setiap hidup manusia yang keadaan dan kondisi fisiknya boleh jadi berbeda.  Hati dan Jiwa inilah yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling mulia diantara makhluk ciptaan Allah yang lain.  Kemuliaan dalam diri manusia ini hanya bisa dirasakan dan dialami oleh manusia yang pandai menggunakan Mata Hati atau Mata Batin nya, bukan mata fisiknya.  Oleh sebab itu, Mata Hati atau Mata Batin inilah yang dapat melihat dan menikmati seluruh Kekayaan di kehidupan dunia yang Allah karuniakan kepada kita semua, sebagai sosok manusia secara fisik yang jiwanya hidup di dunia.   

Kita sebagai manusia sering terkecoh atau bahkan tertipu oleh diri kita sendiri terhadap segala sesuatu yang menurut kita dapat membahagiakan hidup kita.  Hal yang membuat kita terkecoh atau tertipu umumnya disebabkan karena kita terlalu fokus dan larut melihat atau mengikuti cara hidup orang lain dalam menjalani hidupnya, yang terlihat sekilas dari luar (menurut Mata Fisik kita) memiliki kehidupan yang bahagia.  Maklum, karena manusia memang seringkali dalam kehidupannya lebih banyak menggunakan Mata Fisik dan bukan mengandalkan Mata Batin atau Mata Hati nya.

Orang sering menyebut, dan saya yakin juga setuju, bahwa Mata Batin atau Mata Hati ini sebenarnya lebih tajam penglihatannya daripada Mata Fisik manusia.  Mata Fisik setiap orang sudah pasti juga bisa dilihat oleh Mata Fisik orang lain.  Sebaliknya, hanya masing-masing diri kita sendiri saja yang bisa melihat Mata Batin atau Mata Hati kita secara jelas.  Seorang manusia tidak mungkin dapat melihat secara jelas Mata Batin orang lain.  Bahkan, saking tajamnya Mata Batin atau Mata Hati ini, sampai bisa menembus ruang dan waktu.

Manusia yang sering mengandalkan Mata Batin seyogyanya akan memiliki Jiwa yang Tenang, karena tidak gampang tekecoh dan tertipu untuk selalu melihat "Kehidupan yang bahagia" secara fisik yang dapat memuaskan "Kehidupan Fisiknya".  Selama seseorang masih terus mencari "Kebahagiaan Fisik dan Kepuasan Fisik", maka selama itulah dia tidak akan tenang jiwanya. 

Disadari atau tidak, Mata Batin atau Mata Hati kita lah yang dapat melihat Karunia Allah yang diberikan secara Adil kepada setiap manusia.  Sehingga jiwa manusia yang dapat melihat karunia Allah dalam setiap kondisi dan keadaan yang dialami sepanjang hidupnya, maka jiwa manusia tersebut akan selalu merasakan Kebahagiaan yang hakiki dan Kepuasan Batin dalam hidupnya.  Kondisi kehidupan manusia seperti inilah yang dapat mencapai kondisi Jiwa yang tenang.  Manusia yang Jiwanya Tenang tidak akan pernah merasa kecewa mengalami berbagai macam fase kehidupan yang Allah telah karuniakan sepanjang hidupnya.  Bukankah di Al Qur'an menyebutkan bahwa Jiwa yang Tenang inilah yang kelak di akhirat dipanggil Allah untuk masuk Surga?  Alangkah beruntungnya kita bila dapat mencapai kondisi Jiwa yang Tenang selama hidup di dunia dan kelak bahkan dipanggil oleh Yang Maha Pencipta Langit dan Bumi untuk masuk ke dalam Surga-Nya.  

Jadi sering-seringlah kita untuk selalu ingat menggunakan Mata Batin atau Mata Hati kita sebagai Kekayaan Terbesar yang telah Allah anugerahkan kepada setiap manusia agar dapat selalu melihat karunia Allah sepanjang hidup manusia.  Kemampuan untuk melihat karunia Allah yang tak terhingga inilah yang akan membuat setiap manusia tidak henti-hentinya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kebahagiaan dan kepuasan hidup yang hakiki, sehingga membuat Hati dan Jiwa manusia yang merasakannya selalu tenang.


MELURUSKAN TUJUAN HIDUP DI DUNIA

Sering kita mendengar nasehat berupa pertanyaan tentang apa sebenarnya Tujuan Hidup kita di Dunia ini.  Bagi yang berpikir untuk kehidupan di akhirat kelak, maka kemungkinan akan bilang bahwa Tujuan Hidup kita di Dunia adalah untuk dapat mengantar kita masuk Surga kelak.  Bagi yang terlena dan fokus ke kehidupan di dunia saja, kemungkinan akan bilang bahwa Tujuan hidup di dunia adalah berusaha atau bekerja, menikah, punya anak, cari rejeki sebanyak2nya dst.  Bagi yang hatinya tulus dan ikhlas mudah2an tujuan hidupnya di dunia ini adalah untuk menjadi sebaik-baik manusia, yaitu manusia yang dapat memberikan manfaat positif untuk orang lain.

Namun, pernahkah kita meluruskan apa yang sebenarnya yang kita harapkan dan menjadi tujuan selama hidup di dunia ini? Hampir sebagian besar manusia pasti berharap segala sesuatu yang bersifat materi (kekayaan, dll) atau yang bukan bersifat materi (non-materi) meskipun ujung2nya menghasilkan sesuatu yang bersifat materi yaitu (ilmu yang bermanfaat, kesehatan dll yang dapat digunakan untuk memperoleh materi).  Sebenarnya yang mesti kita harapkan selama hidup di dunia ini adalah "Ridho" Allah.  Bilamana Allah ridho, maka Allah akan ijinkan segala sesuatu yang baik terjadi atas diri kita dan dalam hidup kita.  Bukankan semua yang terjadi dan semua yang dapat kita rasakan di dunia ini karena atas seijin Allah.  Semua hal baik dan hal buruk terjadi atas izin Allah. Bahkan disebutkan di Al Qur’an bahwa daun tidak akan jatuh dari ranting tanpa se-izin Allah.  Oleh sebab itu, penting sekali bagi kita selama hidup di dunia ini untuk meluruskan niat atas segala tujuan hidup dan segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini semata-mata berharap ridho Allah.  Dengan begitu, setiap manusia dalam hidupnya akan selalu menerima dengan ikhlas dan mensyukuri apapun hasil yang diperoleh dan juga keadaan apapun yang dialami mulai dari lahir sampai dengan sepanjang hidupnya.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan ridho Allah dalam hidup kita? Secara umum pasti dengan menjalankan segala perintah Nya dan menjauhi segala LaranganNya. Menjalankan perintahNya yang salah satunya adalah menjalankan ibadah Wajib seperti Sholat.  Namun, kita perlu spesifik kan lagi maksud dari kalimat diatas.  Karena menjalankan perintahNya, saya khawatir belum cukup untuk mendapatkan ridho Allah di dunia.  Insha Allah di akhirat iya, karena hadist nya bilang bahwa di akhirat saat manusia dihisab, malaikat melihat catatan amal kita berawal dari Sholat kita, bila Sholat nya bagus maka dianggap seluruh amal kita yang lain juga bagus.  Tapi selama kita masih di dunia, bagaimana agar sepenuhnya kita mendapat ridho Allah?  Karena kita selalu berdoa agar diberikan Kebaikan dan Keselamatan di dunia dan akhirat.  Jadi selama masih hidup di dunia ini, penting juga kita berharap bisa memperoleh ridho Allah, agar hidup dan jiwa kita selalu tenang.  Lantas, bagaimana kita tahu apabila Allah ridho pada kita? Kita bisa tahu bahwa Allah ridho kepada kita, apabila kita selalu merasa “nikmat dan bersyukur kepada Allah" dalam menjalani hidup kita.  Perasaan Nikmat dan Bersyukur ini bukan kita yang lakukan atau usahakan, namun Allah yang mengkaruniakan, sebagaimana disebutkan dalam firman Nya di Al Qur'an, “Bersyukurlah kepada-Ku maka akan aku tambah Nimat Ku”.

Jadi ternyata dengan kita selalu bersyukur sepanjang hidup kita, dalam setiap keadaan, dalam setiap situasi, yang bahkan situasinya kita anggap sebagai masalah, tetap kita harus selalu bisa Bersyukur (baik secara tingkah laku maupun ucapannya).  Kalo kita sebagai manusia bersyukur secara ucapan saja susah apalagi mo bersyukur secara tingkah laku.  Mulailah sering2 mengucap Syukur baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.  Insha Allah, ucapan syukur yang sering terlontar akan membawa diri kita ke tingkah laku yang penuh rasa syukur.  Ingat ya, ucapan Syukur yang hakiki itu “Unconditional” (tanpa syarat)..tanpa  embel2 kalimat “tapi, seandainya, seharusnya, dll”.  Banyak orang yang mengucap syukur, namun tingkah lakunya tidak mencerminkan rasa syukur.  Bahkan kata2 bersyukurnya masih menambahkan alasan atau ketidakpuasan atas apa yang telah terjadi, yang telah dimiliki, ataupun yang telah diperoleh.

Tidak benar pendapat manusia yang merasa hidupnya diridhoi Allah saat memperoleh apa yang dia inginkan.  Lalu, salah juga berpendapat bahwa bilamana keinginan kita belum ada yang tercapai artinya Allah tidak meridhoi kehidupan kita di dunia. 

Allah katakan dalam AlQur’an surat 89 Al Fajr. 
Ayat 15:  Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya      kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku".  
Ayat 16:  Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rejekinya, maka dia berkata, "Tuhanku telah menghinaku."  
Ayat 17:  Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim.
Ayat 18:  dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.
Ayat 19:  sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram).
Ayat 20:  dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.

Sangat Dalam makna ucapan sahabat Rasulullah saw yang bernama Ali bin Abi Thalib ra, yang mungkin sulit dilakukan oleh manusia pada umumnya, yaitu beliau pernah berkata bahwa: “Aku bersyukur apabila Allah mengabulkan keinginanku.  Namun, aku lebih bersyukur apabila Allah tidak mengabulkan keinginanku, karena tidak terkabulnya keinginanku itu artinya yang terkabul adalah murni keinginan Allah, bukan keinginanku.”

Dengan selalu bersyukur, maka Allah akan tambah Nikmatnya kepada kita. Jika Allah berkenan menambah kenikmatanNya selama kita hidup di dunia, bisa disimpulkan bahwa Allah sedang Meridhoi hidup kita di Dunia ini. Nikmat yang dimaksud adalah Nikmat hakiki yang bisa dirasakan oleh Jiwa Yang Tenang, bukan semata-mata Nikmat materi.  Bila Hati dan Jiwa kita masih merasakan Nikmat dengan diiringi rasa sombong, emosi, iri, dengki, kecewa, dan jauh dari rasa syukur, bisa dipastikan itu bukan Nikmat yang sesungguhnya kita cari di dunia ini.   Jiwa yang tenang lah yang sesungguhnya menjadi Nikmat hakiki yang kita cari.  Insha Allah, Jiwa-Jiwa yang tenang inilah yang dimuliakan Allah dan akan mendapat Ridho Allah selama hidup di dunia serta mendapatkan Kebaikan dan Keselamatan di Dunia dan di Akhirat kelak. Amiin yaa Rabbal Aalamiin.

Sabtu, 23 Januari 2021

MENJADI KAYA dan TETAP KAYA


Dalam cerita perjalanan hidup manusia, sangat disayangkan banyak sekali Orang-Orang Kaya yang dalam hidupnya akhirnya Jatuh Miskin.  Namun, Alhamdulillah kita juga banyak mendengar cerita orang-orang Miskin yang berubah menjadi orang kaya.

Sebagian besar kita kemungkinan sering mendengar motivasi tentang bagaimana cara-cara untuk menjadi orang kaya. Salah satu caranya nya adalah dengan mempersiapkan Diri untuk layak menerima kekayaan tersebut. Saya masih ingat salah satu motivator terkenal bilang bahwa sebuah mangkok bila ingin menambah isinya, maka harus memperbesar ukuran mangkoknya. Jadi seorang manusia bila ingin bertambah kaya, maka orang tersebut seharusnya memperluas kemampuan dirinya untuk dapat menerima kekayaan yang diinginkan tersebut. 

Sayangnya cerita motivasi yang positif tersebut tidak pernah ada yang terpikir untuk melanjutkan lagi dengan cerita umum yang sering terjadi berikutnya dalam kehidupan manusia.  Cerita berikutnya dalam kehidupan manusia adalah Apa yang terjadi setelah manusia memperoleh apa yang diinginkan dan apa yang dilakukan oleh orang-orang tersebut setelah menjadi kaya.  Apakah orang-orang tersebut akan tetap kaya dalam waktu yang cukup lama, ataukah setelah kaya menjadi jatuh miskin kembali?

Biasanya Manusia sering lolos Ujian/Cobaan Hidup dan melakukan banyak  ibadah serta kebajikan dalam dirinya di saat mereka hidup susah atau hidup miskin.  Namun jauh lebih banyak manusia yang gagal dalam hidupnya dan terperosok ke dalam lembah kehidupan yang penuh dosa di saat mereka hidup dalam kekayaan dan berkelimpahan materi.

Kembali ke cerita motivasi tentang memperbesar ukuran mangkoknya.  Cerita berikutnya yang menjadi Pertanyaan di dalam benak saya adalah: sampai sebesar apa dan sampai kapan mangkoknya diperbesar terus. Bila ditanyakan sampai kapan, pasti sampai umur manusia itu habis alias wafat atau bahkan sebelum wafatpun sudah sulit memperbesar mangkoknya karena fakator usia dan fisik yang melemah.  Tapi kalo ditanya sampai sebesar apa mangkoknya?  Ibarat nafsu manusia tidak akan pernah ada habisnya. Di Al Qur’an disebutkan bahwa Manusia adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas dalam hal materi dunia.  Alhasil manusia seperti ini bisa terperangkap dalam hidupnya untuk terus memperbesar mangkoknya dengan segala cara. Iya kalo caranya Halal, kalo pake cara Haram? Kalo pun caranya Halal untuk memperbesar mangkoknya, lalu dikemanakan hasil yang diperoleh dari mangkok yang besar tersebut? Jangan-jangan malah terperosok dalam lembah kehidupan penuh dosa karena hasilnya digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan menzolimi dirinya dan orang lain tanpa disadari. Contoh: Kekayaan digunakan untuk menyogok untuk kepentingan pribadi menzolimi orang lain; atau Kekayaan untuk menguasai orang lain dan mengambil hak-hak orang lain. Atau Kekayaannya tidak dia gunakan dan manfaatkan karena saking banyaknya Materi yang dimilikinya, sehingga orang-orang terdekatnya yang memanfaatkan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan merugikan orang lain.

“Sikap mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan merupakan cikal bakal seluruh kerusakan. Sikap mengikuti hawa nafsu akan membutakan seseorang sehingga dia tidak mengenali kebenaran dan tidak mencarinya. Panjang angan-angan akan membuat seseorang lupa akhirat dan menghalangi upaya mempersiapkan diri menghadapinya” (Ibnul Qayyim).

Cerita motivasinya harusnya dilanjutkan lagi bahwa Semakin besar mangkoknya, maka harus semakin banyak dan sering dikeluarkan isinya untuk hal-hal yang bermanfaat di dunia agar Kekayaan yang dimiliki menjadi modal untuk mendapatkan kekayaan yang kekal di akhirat.  Insha Allah orang-orang Kaya seperti inilah yang akan tetap menjadi Kaya alias mendapatkan Kekayaan yang Kekal di dunia dan di akhirat nanti.   ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri Akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.  Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashash:77)

Ayat ini sebagai bukti bahwa Manusia yang telah diberi anugerah dengan Mangkok yang besar dan hasil kenikmatan dunia yang banyak, gunakanlah hasilnya sebanyak mungkin untuk kebaikan, karena bila tidak untuk kebaikan maka sudah pasti hasil kekayaan tersebut akan terpakai untuk hal-hal buruk yang tidak bermanfaat dan membuat kerusakan. Dan Allah sangat tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Bila Allah tidak suka terhadap orang-orang kaya yang berbuat kerusakan tersebut, maka sudah pasti Allah akan ambil kekayaan dari orang-orang tersebut, dihancurkan mangkoknya, dan dijadikan orang-orang tersebut menjadi miskin kembali.

-BP-