Selasa, 30 November 2021

Kekayaan Terbesar sepanjang Hidup setiap Jiwa Manusia

Sungguh Allah Maha Kaya, sampai semua manusia yang diciptakan Allah dari jaman Adam dan Hawa diberikan “Kekayaan terbesar” dalam hidupnya .  Semua Manusia?  Ya, dan jika masih ada manusia yang bilang Allah tidak adil, itu karena mereka masih menggunakan Mata Fisiknya yang melihat, “kok ada manusia yang Kaya dan yang Miskin?”. “Kok ada Manusia yang Bahagia dan Sengsara?”, inilah kalimat-kalimat yang mungkin muncul di benak manusia yang terlalu sering menggunakan Mata Fisik dan jarang mengaktifkan Mata Batin atau Mata Hati nya.  Orang-orang seperti ini yang akan kesulitan untuk memiliki Jiwa yang Tenang karena selalu merasakan konflik Batin antara apa yang dilihat dengan apa yang diyakini.

Selain Maha Kaya, Allah juga tunjukkan kepada Manusia bahwa Dia juga Maha Adil.  Saking adilnya, sampai “Kekayaan Terbesar" dalam Hidup Manusia pun diberikan kepada setiap manusia yang Allah ciptakan.  Tidak ada satu pun manusia yang diberikan kemiskinan.  Semuanya diberi kekayaan oleh Allah SWT.  Lantas, apakah "Kekayaan Terbesar" tersebut yang Allah berikan dalam Hidup setiap jiwa  Manusia?  Dan bagaimana cara Allah memberikan “Kekayaan” tersebut kepada setiap manusia?  

Cara Allah memberikan “Kekayaan Terbesar” dan secara Adil kepada semua manusia, yaitu dengan menciptakan setiap fisik manusia disertai dengan Hati dan Jiwa agar dapat menikmati karunia Allah dalam setiap hidup manusia yang keadaan dan kondisi fisiknya boleh jadi berbeda.  Hati dan Jiwa inilah yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling mulia diantara makhluk ciptaan Allah yang lain.  Kemuliaan dalam diri manusia ini hanya bisa dirasakan dan dialami oleh manusia yang pandai menggunakan Mata Hati atau Mata Batin nya, bukan mata fisiknya.  Oleh sebab itu, Mata Hati atau Mata Batin inilah yang dapat melihat dan menikmati seluruh Kekayaan di kehidupan dunia yang Allah karuniakan kepada kita semua, sebagai sosok manusia secara fisik yang jiwanya hidup di dunia.   

Kita sebagai manusia sering terkecoh atau bahkan tertipu oleh diri kita sendiri terhadap segala sesuatu yang menurut kita dapat membahagiakan hidup kita.  Hal yang membuat kita terkecoh atau tertipu umumnya disebabkan karena kita terlalu fokus dan larut melihat atau mengikuti cara hidup orang lain dalam menjalani hidupnya, yang terlihat sekilas dari luar (menurut Mata Fisik kita) memiliki kehidupan yang bahagia.  Maklum, karena manusia memang seringkali dalam kehidupannya lebih banyak menggunakan Mata Fisik dan bukan mengandalkan Mata Batin atau Mata Hati nya.

Orang sering menyebut, dan saya yakin juga setuju, bahwa Mata Batin atau Mata Hati ini sebenarnya lebih tajam penglihatannya daripada Mata Fisik manusia.  Mata Fisik setiap orang sudah pasti juga bisa dilihat oleh Mata Fisik orang lain.  Sebaliknya, hanya masing-masing diri kita sendiri saja yang bisa melihat Mata Batin atau Mata Hati kita secara jelas.  Seorang manusia tidak mungkin dapat melihat secara jelas Mata Batin orang lain.  Bahkan, saking tajamnya Mata Batin atau Mata Hati ini, sampai bisa menembus ruang dan waktu.

Manusia yang sering mengandalkan Mata Batin seyogyanya akan memiliki Jiwa yang Tenang, karena tidak gampang tekecoh dan tertipu untuk selalu melihat "Kehidupan yang bahagia" secara fisik yang dapat memuaskan "Kehidupan Fisiknya".  Selama seseorang masih terus mencari "Kebahagiaan Fisik dan Kepuasan Fisik", maka selama itulah dia tidak akan tenang jiwanya. 

Disadari atau tidak, Mata Batin atau Mata Hati kita lah yang dapat melihat Karunia Allah yang diberikan secara Adil kepada setiap manusia.  Sehingga jiwa manusia yang dapat melihat karunia Allah dalam setiap kondisi dan keadaan yang dialami sepanjang hidupnya, maka jiwa manusia tersebut akan selalu merasakan Kebahagiaan yang hakiki dan Kepuasan Batin dalam hidupnya.  Kondisi kehidupan manusia seperti inilah yang dapat mencapai kondisi Jiwa yang tenang.  Manusia yang Jiwanya Tenang tidak akan pernah merasa kecewa mengalami berbagai macam fase kehidupan yang Allah telah karuniakan sepanjang hidupnya.  Bukankah di Al Qur'an menyebutkan bahwa Jiwa yang Tenang inilah yang kelak di akhirat dipanggil Allah untuk masuk Surga?  Alangkah beruntungnya kita bila dapat mencapai kondisi Jiwa yang Tenang selama hidup di dunia dan kelak bahkan dipanggil oleh Yang Maha Pencipta Langit dan Bumi untuk masuk ke dalam Surga-Nya.  

Jadi sering-seringlah kita untuk selalu ingat menggunakan Mata Batin atau Mata Hati kita sebagai Kekayaan Terbesar yang telah Allah anugerahkan kepada setiap manusia agar dapat selalu melihat karunia Allah sepanjang hidup manusia.  Kemampuan untuk melihat karunia Allah yang tak terhingga inilah yang akan membuat setiap manusia tidak henti-hentinya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kebahagiaan dan kepuasan hidup yang hakiki, sehingga membuat Hati dan Jiwa manusia yang merasakannya selalu tenang.


MELURUSKAN TUJUAN HIDUP DI DUNIA

Sering kita mendengar nasehat berupa pertanyaan tentang apa sebenarnya Tujuan Hidup kita di Dunia ini.  Bagi yang berpikir untuk kehidupan di akhirat kelak, maka kemungkinan akan bilang bahwa Tujuan Hidup kita di Dunia adalah untuk dapat mengantar kita masuk Surga kelak.  Bagi yang terlena dan fokus ke kehidupan di dunia saja, kemungkinan akan bilang bahwa Tujuan hidup di dunia adalah berusaha atau bekerja, menikah, punya anak, cari rejeki sebanyak2nya dst.  Bagi yang hatinya tulus dan ikhlas mudah2an tujuan hidupnya di dunia ini adalah untuk menjadi sebaik-baik manusia, yaitu manusia yang dapat memberikan manfaat positif untuk orang lain.

Namun, pernahkah kita meluruskan apa yang sebenarnya yang kita harapkan dan menjadi tujuan selama hidup di dunia ini? Hampir sebagian besar manusia pasti berharap segala sesuatu yang bersifat materi (kekayaan, dll) atau yang bukan bersifat materi (non-materi) meskipun ujung2nya menghasilkan sesuatu yang bersifat materi yaitu (ilmu yang bermanfaat, kesehatan dll yang dapat digunakan untuk memperoleh materi).  Sebenarnya yang mesti kita harapkan selama hidup di dunia ini adalah "Ridho" Allah.  Bilamana Allah ridho, maka Allah akan ijinkan segala sesuatu yang baik terjadi atas diri kita dan dalam hidup kita.  Bukankan semua yang terjadi dan semua yang dapat kita rasakan di dunia ini karena atas seijin Allah.  Semua hal baik dan hal buruk terjadi atas izin Allah. Bahkan disebutkan di Al Qur’an bahwa daun tidak akan jatuh dari ranting tanpa se-izin Allah.  Oleh sebab itu, penting sekali bagi kita selama hidup di dunia ini untuk meluruskan niat atas segala tujuan hidup dan segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini semata-mata berharap ridho Allah.  Dengan begitu, setiap manusia dalam hidupnya akan selalu menerima dengan ikhlas dan mensyukuri apapun hasil yang diperoleh dan juga keadaan apapun yang dialami mulai dari lahir sampai dengan sepanjang hidupnya.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan ridho Allah dalam hidup kita? Secara umum pasti dengan menjalankan segala perintah Nya dan menjauhi segala LaranganNya. Menjalankan perintahNya yang salah satunya adalah menjalankan ibadah Wajib seperti Sholat.  Namun, kita perlu spesifik kan lagi maksud dari kalimat diatas.  Karena menjalankan perintahNya, saya khawatir belum cukup untuk mendapatkan ridho Allah di dunia.  Insha Allah di akhirat iya, karena hadist nya bilang bahwa di akhirat saat manusia dihisab, malaikat melihat catatan amal kita berawal dari Sholat kita, bila Sholat nya bagus maka dianggap seluruh amal kita yang lain juga bagus.  Tapi selama kita masih di dunia, bagaimana agar sepenuhnya kita mendapat ridho Allah?  Karena kita selalu berdoa agar diberikan Kebaikan dan Keselamatan di dunia dan akhirat.  Jadi selama masih hidup di dunia ini, penting juga kita berharap bisa memperoleh ridho Allah, agar hidup dan jiwa kita selalu tenang.  Lantas, bagaimana kita tahu apabila Allah ridho pada kita? Kita bisa tahu bahwa Allah ridho kepada kita, apabila kita selalu merasa “nikmat dan bersyukur kepada Allah" dalam menjalani hidup kita.  Perasaan Nikmat dan Bersyukur ini bukan kita yang lakukan atau usahakan, namun Allah yang mengkaruniakan, sebagaimana disebutkan dalam firman Nya di Al Qur'an, “Bersyukurlah kepada-Ku maka akan aku tambah Nimat Ku”.

Jadi ternyata dengan kita selalu bersyukur sepanjang hidup kita, dalam setiap keadaan, dalam setiap situasi, yang bahkan situasinya kita anggap sebagai masalah, tetap kita harus selalu bisa Bersyukur (baik secara tingkah laku maupun ucapannya).  Kalo kita sebagai manusia bersyukur secara ucapan saja susah apalagi mo bersyukur secara tingkah laku.  Mulailah sering2 mengucap Syukur baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.  Insha Allah, ucapan syukur yang sering terlontar akan membawa diri kita ke tingkah laku yang penuh rasa syukur.  Ingat ya, ucapan Syukur yang hakiki itu “Unconditional” (tanpa syarat)..tanpa  embel2 kalimat “tapi, seandainya, seharusnya, dll”.  Banyak orang yang mengucap syukur, namun tingkah lakunya tidak mencerminkan rasa syukur.  Bahkan kata2 bersyukurnya masih menambahkan alasan atau ketidakpuasan atas apa yang telah terjadi, yang telah dimiliki, ataupun yang telah diperoleh.

Tidak benar pendapat manusia yang merasa hidupnya diridhoi Allah saat memperoleh apa yang dia inginkan.  Lalu, salah juga berpendapat bahwa bilamana keinginan kita belum ada yang tercapai artinya Allah tidak meridhoi kehidupan kita di dunia. 

Allah katakan dalam AlQur’an surat 89 Al Fajr. 
Ayat 15:  Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya      kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku".  
Ayat 16:  Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rejekinya, maka dia berkata, "Tuhanku telah menghinaku."  
Ayat 17:  Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim.
Ayat 18:  dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.
Ayat 19:  sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram).
Ayat 20:  dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.

Sangat Dalam makna ucapan sahabat Rasulullah saw yang bernama Ali bin Abi Thalib ra, yang mungkin sulit dilakukan oleh manusia pada umumnya, yaitu beliau pernah berkata bahwa: “Aku bersyukur apabila Allah mengabulkan keinginanku.  Namun, aku lebih bersyukur apabila Allah tidak mengabulkan keinginanku, karena tidak terkabulnya keinginanku itu artinya yang terkabul adalah murni keinginan Allah, bukan keinginanku.”

Dengan selalu bersyukur, maka Allah akan tambah Nikmatnya kepada kita. Jika Allah berkenan menambah kenikmatanNya selama kita hidup di dunia, bisa disimpulkan bahwa Allah sedang Meridhoi hidup kita di Dunia ini. Nikmat yang dimaksud adalah Nikmat hakiki yang bisa dirasakan oleh Jiwa Yang Tenang, bukan semata-mata Nikmat materi.  Bila Hati dan Jiwa kita masih merasakan Nikmat dengan diiringi rasa sombong, emosi, iri, dengki, kecewa, dan jauh dari rasa syukur, bisa dipastikan itu bukan Nikmat yang sesungguhnya kita cari di dunia ini.   Jiwa yang tenang lah yang sesungguhnya menjadi Nikmat hakiki yang kita cari.  Insha Allah, Jiwa-Jiwa yang tenang inilah yang dimuliakan Allah dan akan mendapat Ridho Allah selama hidup di dunia serta mendapatkan Kebaikan dan Keselamatan di Dunia dan di Akhirat kelak. Amiin yaa Rabbal Aalamiin.

Sabtu, 23 Januari 2021

MENJADI KAYA dan TETAP KAYA


Dalam cerita perjalanan hidup manusia, sangat disayangkan banyak sekali Orang-Orang Kaya yang dalam hidupnya akhirnya Jatuh Miskin.  Namun, Alhamdulillah kita juga banyak mendengar cerita orang-orang Miskin yang berubah menjadi orang kaya.

Sebagian besar kita kemungkinan sering mendengar motivasi tentang bagaimana cara-cara untuk menjadi orang kaya. Salah satu caranya nya adalah dengan mempersiapkan Diri untuk layak menerima kekayaan tersebut. Saya masih ingat salah satu motivator terkenal bilang bahwa sebuah mangkok bila ingin menambah isinya, maka harus memperbesar ukuran mangkoknya. Jadi seorang manusia bila ingin bertambah kaya, maka orang tersebut seharusnya memperluas kemampuan dirinya untuk dapat menerima kekayaan yang diinginkan tersebut. 

Sayangnya cerita motivasi yang positif tersebut tidak pernah ada yang terpikir untuk melanjutkan lagi dengan cerita umum yang sering terjadi berikutnya dalam kehidupan manusia.  Cerita berikutnya dalam kehidupan manusia adalah Apa yang terjadi setelah manusia memperoleh apa yang diinginkan dan apa yang dilakukan oleh orang-orang tersebut setelah menjadi kaya.  Apakah orang-orang tersebut akan tetap kaya dalam waktu yang cukup lama, ataukah setelah kaya menjadi jatuh miskin kembali?

Biasanya Manusia sering lolos Ujian/Cobaan Hidup dan melakukan banyak  ibadah serta kebajikan dalam dirinya di saat mereka hidup susah atau hidup miskin.  Namun jauh lebih banyak manusia yang gagal dalam hidupnya dan terperosok ke dalam lembah kehidupan yang penuh dosa di saat mereka hidup dalam kekayaan dan berkelimpahan materi.

Kembali ke cerita motivasi tentang memperbesar ukuran mangkoknya.  Cerita berikutnya yang menjadi Pertanyaan di dalam benak saya adalah: sampai sebesar apa dan sampai kapan mangkoknya diperbesar terus. Bila ditanyakan sampai kapan, pasti sampai umur manusia itu habis alias wafat atau bahkan sebelum wafatpun sudah sulit memperbesar mangkoknya karena fakator usia dan fisik yang melemah.  Tapi kalo ditanya sampai sebesar apa mangkoknya?  Ibarat nafsu manusia tidak akan pernah ada habisnya. Di Al Qur’an disebutkan bahwa Manusia adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas dalam hal materi dunia.  Alhasil manusia seperti ini bisa terperangkap dalam hidupnya untuk terus memperbesar mangkoknya dengan segala cara. Iya kalo caranya Halal, kalo pake cara Haram? Kalo pun caranya Halal untuk memperbesar mangkoknya, lalu dikemanakan hasil yang diperoleh dari mangkok yang besar tersebut? Jangan-jangan malah terperosok dalam lembah kehidupan penuh dosa karena hasilnya digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan menzolimi dirinya dan orang lain tanpa disadari. Contoh: Kekayaan digunakan untuk menyogok untuk kepentingan pribadi menzolimi orang lain; atau Kekayaan untuk menguasai orang lain dan mengambil hak-hak orang lain. Atau Kekayaannya tidak dia gunakan dan manfaatkan karena saking banyaknya Materi yang dimilikinya, sehingga orang-orang terdekatnya yang memanfaatkan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan merugikan orang lain.

“Sikap mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan merupakan cikal bakal seluruh kerusakan. Sikap mengikuti hawa nafsu akan membutakan seseorang sehingga dia tidak mengenali kebenaran dan tidak mencarinya. Panjang angan-angan akan membuat seseorang lupa akhirat dan menghalangi upaya mempersiapkan diri menghadapinya” (Ibnul Qayyim).

Cerita motivasinya harusnya dilanjutkan lagi bahwa Semakin besar mangkoknya, maka harus semakin banyak dan sering dikeluarkan isinya untuk hal-hal yang bermanfaat di dunia agar Kekayaan yang dimiliki menjadi modal untuk mendapatkan kekayaan yang kekal di akhirat.  Insha Allah orang-orang Kaya seperti inilah yang akan tetap menjadi Kaya alias mendapatkan Kekayaan yang Kekal di dunia dan di akhirat nanti.   ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri Akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.  Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashash:77)

Ayat ini sebagai bukti bahwa Manusia yang telah diberi anugerah dengan Mangkok yang besar dan hasil kenikmatan dunia yang banyak, gunakanlah hasilnya sebanyak mungkin untuk kebaikan, karena bila tidak untuk kebaikan maka sudah pasti hasil kekayaan tersebut akan terpakai untuk hal-hal buruk yang tidak bermanfaat dan membuat kerusakan. Dan Allah sangat tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Bila Allah tidak suka terhadap orang-orang kaya yang berbuat kerusakan tersebut, maka sudah pasti Allah akan ambil kekayaan dari orang-orang tersebut, dihancurkan mangkoknya, dan dijadikan orang-orang tersebut menjadi miskin kembali.

-BP-


Selasa, 07 April 2020

SOLUSI MAINSTREAM

Saat ini Pemerintah Pusat dan Masyarakat terfokuskan untuk mencari Solusi darurat yang Sifatnya Pinjam/Hutang dan Pembebasan Biaya (Sembako, SPP, Cicilan, dll).

Gak kebayang Hutang Pemerintah akan makin menggunung dengan semakin banyaknya Biaya beban Rakyat yg digratiskan.

Solusi darurat sangat perlu, tapi Sudah Saatnya Rakyat diajak, dipancing, dan digerakkan untuk solusi Jangka Panjang.

Sudah SAATNYA, Rakyat disadarkan bahwa sekarang peluang *Bisnis Lokal* untuk jadi *tuan Rumah di negeri sendiri.*

Sudah SAATNYA, Rakyat disadarkan untuk *tidak mengendapkan uangnya* karena alasan roda ekonomi sedang mampet karena wabah.

Sudah SAATNYA, Rakyat diarahkan untuk menggerakkan dananya untuk diputar dan di *investasikan di bisnis-bisnis Lokal.*

Sudah SAATNYA, Rakyat disadarkan bahwa *Produk dan Bisnis lokal-lah yang masih "Survive" dan Aktif.*

Sudah SAATNYA, Rakyat disadarkan bahwa *Produk Lokal lebih Low Cost dan punya kualitas yg bersaing*

Sudah SAATNYA, Rakyat *berkolaborasi* antara Pemilik Dana Lokal dengan Pemilik Bisnis Lokal...
antara Pemilik Bisnis Lokal dengan Pedagang Produk Lokal...
antara Pedagang Produk Lokal dengan Produsen Produk Lokal...
antara Produsen Produk Lokal dengan Petani, Nelayan, dan Peternak Lokal...
antara Petani, Nelayan, Peternak dengan Penjual Benih Lokal, Mesin Kapal Lokal, Penjual Pakan Lokal...

Sudah SAATNYA, Rakyat yang pesimis membaca tulisan ini, membiasakan diri untuk tidak terpancing segala sesuatu yang berbau import. Sampai2 hutang pun harus Import.

Sudah SAATNYA, Rakyat disadarkan Wisata Lokal kita *kelas Dunia*, *Makanan Lokal* kita kelas Dunia, *Design Baju* kita kelas Dunia, *Batik* kita kelas Dunia, bahkan semua *bahan Mentah Kelas Dunia* ada semua di produk Lokal.

Sudah SAATNYA, Rakyat disadarkan untuk *tidak Gengsi* investasi di Bisnis Lokal, Pebisnis Lokal juga tidak Gengsi untuk menawarkan peluang partnership ke investor lokal.

Sudah SAATNYA, Rakyat disadarkan bahwa Wabah Covid 19 adalah Peluang untuk melakukan Semua hal tersebut diatas.

*-BP-*

Senin, 15 April 2019

"Religion & Politics" vs "Money & Politics"

Dibawah ini adalah diskusi menarik antara saya dan sahabat kolega senior yang baik hati dan tidak sombong.

Beliau sempat meng-quote via WA ke nomor saya:
"Potensi adanya “perpecahan Islam di Indonesia” terjadi karena ada yg mencampur Agama dengan Politik.
Juka para pemilih Indonesia punya kedewasaan berpikir, maka kalau sedari awal tidak ada pihak yang tega mencampur Agama dgn Politik (demi apa ya kira2?), maka dengan sendirinya prospek Islam pecah tak kan terjadi.
Yang biang kerok, dan harusnya merasa ‘aib, adalah yg mempolitisasi agama.
Saya pribadi menolak masuk dalam jebakan pihak yg mencampur agama dgn politik, yang mana mereka kemudian mencoba menyudutkan pilihan politik saya dengan dalih demi agama."

Tanggapan saya Pribadi kepada beliau dengan sharing pendapat melalui WA adalah tanpa bermaksud apa-apa, semata-mata merasa kalimat yang beliau sampaikan kurang tepat di hati dan pikiran saya, sehingga perlu saya sampaikan juga pendapat saya mengenai topik "Agama dan Politik".  
Tanggapan saya dan perbincangan beliau dan saya berdua di WA memancing pemikiran logika yang mengalir begitu saja dalam perbincangan tersebut dan menurut saya menarik untuk disimak.

Berikut kelanjutan dari quote WA tsb diatas:

SAYA: 
Sesungguhnya Penyebab "Perpecahan Islam di Indonesia" yg hanya disebabkan karena Faktor Politik adalah bukan karena "mencampur Agama dengan Politik" (yg selama ini sering didengungkan)..namun sesungguhnya "Mencampur Uang dengan Politik (alias Politik Uang") lah yang menjadi PENYEBAB UTAMA tidak hanya Pemecah Umat, namun Perusak Mental Bangsa dan bibit dari segala awal mula  korupsi yang sudah dan akan terus terjadi.

Sebaliknya bila Agama dicampur dengan Politik, maka niat seseorang yg terjun ke dunia politik semata-mata untuk BERIBADAH dan amanah untuk mencari Pahala tertinggi, bukan untuk memperkaya Diri ataupun Golongan tertentu.

Sejelek2 nya pengaruh menggunakan Agama sebagai pilihan Politik, jauh lebih aman dibanding menggunakan Uang sebagai pilihan Politik.

Bila setuju dan berimbang (Apple to Apple) adalah pernyataan "TIDAK SETUJU" mencampur Agama dengan Politik, juga harus "TIDAK SETUJU" mencampur Uang dengan Politik (yg terakhir ini sdh jadi mainstream yg tidak disadari sdh merusak bangsa).

Pemikiran Pribadi,
-BP-

BELIAU:
Uang, Kekuasaan dan Politik sudah tercampur dari 10000 tahun lalu.

SAYA: 
A Logical Thinking of a Human Being shall not be based on what has been happening, but rather what is Right and Beneficial for Human kind for the.sake of a better Life.

BELIAU:
What is Right and What is True (Factual) are two different things.
Any logical and educated person would know at least that much.

SAYA: 
Yes, and the fact is that the Right thing is happening (is a TRUE/FACT now) so the logic always proves things "Right" and "True/Fact" at the same time.
We could understand this easily so long the Logic is not corrupted with emotional conditiion and situation.

BELIAU:
You said it: No emotions.

SAYA: 
Peace๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š
And don't forget that the right thing starts happening "Religion & Politics"๐Ÿ˜‰๐Ÿ‘Œ which is at the same time it is a true and a better competitor to "Money & Politics"...
This "Religion & Politics" should be an Enlightment rather than a Sinicism.
Concluded..

BELIAU:
You say it’s better — world history disagrees.

SAYA: 
That's because the world history that Disagrees has been filled with Corruptors, Tyrans, and Haters...and this is not logic, it is Facts ..and now are we going to keep following the "WRONG FACTS" in the history...or are we going to use our Pure Logic without Emotions? A Logic that favor a better and a beneficial Human Living despite the fact that is now still unpopular...

BELIAU:
Deny the past ...
You call that logical?

SAYA: 
Scrolling up....there is no statement of "Denial of the Past"...I smell a misunderstanding Quote here pak๐Ÿ˜Š

BELIAU:
You mention this:
"That's because the world history that Disagrees has been filled with Corruptors, Tyrans, and Haters...and this is not logic, it is Facts ..and now are we going to keep following the "WRONG FACTS" in the history...or are we going to use our Pure Logic without Emotions? A Logic that favor a better and a beneficial Human Living despite the fact that is now still unpopular..."

SAYA: 
Exactly..no mention of that history as a Logical...but instead is a FACT....
So why am I being asked and concluded the opposite?
Maybe it's time for breakfast๐ŸŒป๐ŸŒป๐Ÿ‘Œ๐Ÿ‘Œ


Above are the discussions and opinions that could comprise the topics about "Religion & Politics" vs "Money and Politics".

Please disregard the last statement in the conversation as the discussion was in the morning, so once it went concluded and at the same time my opinion was misunderstood, then I joked that it might be time for a breakfast. Peace....

Sabtu, 26 Januari 2019

BEKERJA KERAS vs BERUSAHA KERAS ( Bersungguh-Sungguh)

"Kerja Keras mengejar Kesuksesan dan Rejeki..??"

Hampir semua orang setuju bahwa Kerja Keras adalah Wajib demi meraih Kesuksesan dan mendapatkan Rejeki (Kekayaan).  

Namun, lagi-lagi kita sebagai orang biasa (bukan ahli agama) tidak menemukan ayat di Al Quran kata-kata "Kerja Keras", sebaliknya yang sering ditemukan adalah kata-kata "Bersungguh-sungguh" yaitu lebih lebih dekat korelasinya dengan "Berusaha Keras", bukan "Bekerja Keras"...alias lebih condong ke "Usaha" bukan "Kerja".   

Bisa dibilang "Kerja Keras" itu One thing dan "Kesuksesan, Rejeki" itu Another Thing.  Lagi-lagi klo percaya Takdir Allah, maka seyogyanya Kesuksesan, Rejeki itu adalah hasil yang diperoleh. Jika semua itu hasil yang diperoleh, maka pasti ada yang "Maha Memberi" dan "Maha Berkehendak".  

Selain itu, bila Kerja Keras itu adalah syarat untuk sukses, maka pasti akan banyak yang Sukses dan Kaya.

Secara logika bahasa memaknai kata"Keras" ini adalah sesuatu yang pasti dihindari banyak orang.  Dan banyak yang mengartikan "Kerja Keras" sebagai banting tulang kerja siang malam, lembur, dll, yang korelasi arti kerja keras nya secara fisik.  Intinya bila seseorang bekerja keras, maka tidak ada cukup waktu untuk hal lain kecuali "Kerja.  Sungguh sebuah kata yang sangat sempit maknanya.

Sebaliknya kata "Bersungguh-sungguh" memiliki arti yang lebih luas dan dalam.  Kata ini memiliki unsur niat dan usaha untuk hal-hal yang pasti lebih baik.  Tidak mungkin orang mengucapkan kata "Bersungguh-sungguh (berusaha)" untuk hal yang tidak baik. 

Itu sebabnya banyak orang di Dunia (khususnya di Indonesia) yang sebenarnya Pintar, Rajin, dan banyak sekali yang bekerja Keras (bahkan sering kerja lembut meskipun tidak dibayar) namun tidak memberikan hasil yang baik dan bermanfaat.  Bahkan seringkali kerja kerasnya secara sadar dan tidak sadar dilakukan untuk mengambil hak orang lain. Tidak heran masih banyak pejabat pemerintah di Indonesia yang pintar dan bekerja keras melobi berbagai pihak sampai lembur malam, namun ujung-ujungnya Korupsi, mencuri, dan merampas hak-hak orang lain. 

Sebenarnya segala Pekerjaan yang bersifat fisik ataupun waktu kerja itu sudah diatur oleh Allah dan disampaikan melalui ayat Al Qur'an yang kurang lebih berbunyi: "...dan kami jadikan bagimu waktu Siang (terbitnya Matahari) untuk bekerja, dan waktu Malam untuk kamu beristirahat."  

Selain itu ada juga ayat yang berbunyi: "...maka Berjalanlah kamu di muka bumi..."
Jadi dalam hal urusan yang menghabiskan waktu di dunia ini kita tidak disuruh "Berlari" (bisa diartikan bekerja keras), namun disuruh "Berjalan".  Logikanya bila kita menjalani waktu hidup ini dengan berjalan, maka kita akan lebih dapat menikmati proses berjalannya waktu.  Sebaliknya, bila kita berlari dalam melewati waktu hidup ini, maka fokus kita di dunia saat berlari (bekerja lembur, dll) pasti fokus sama hasil yang dituju, dan lupa terhadap proses kiri dan kanan yang harus kita lalui.  Bahkan seringkali saking kerja kerjas dan fokus sama nafsu pribadinya, maka rela mengorbankan segala proses yang dilalui, bahkan seringkali hak orang lain pun dirampas.

Jadi, sebenarnya yang kita perlu lakukan adalah Bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup ini. Bisa juga diartikan sebagai "Berusaha Keras", dan bukan "Bekerja Keras".
Yakni:
Berusaha Keras untuk Sepenuh Hati/PROFESIONAL dalam menjalankan Pekerjaannya.
Berusaha Keras untuk Jujur, 
Berusaha Keras untuk Sabar, 
Berusaha Keras untuk bangun pagi Sholat Subuh di Masjid, 
Berusaha Keras untuk berbuat Baik kepada orang lain meskipun dia memusuhimu, 
Berusaha Keras untuk Bermanfaat bagi Orang Lain, 
Berusaha Keras untuk menentang Kedzaliman dan Kemungkaran, dll yang semuanya bersifat positif yang tujuannya untuk memberikan Kebaikan dan Keselamatan bagi kita semua di Dunia dan Akhirat.

Pada akhirnya, Semua hal-hal baik yang harus kita lakukan selama di dunia ini membutuhkan Kesungguhan (Usaha Keras) untuk istiqomah dalam melakukannya di tengah-tengah godaan mainstream yang salah kaprah dan cenderung membuat kerusakan dan ketidak-seimbangan dalam hidup. 

Hanya ada satu kata di dalam Al Qur'an yang secara fisik mendekati arti Kerja Keras, yaitu "Berlomba". Karena kata "Berlomba" tentunya suatu tindakan atau aksi yang saling mencurahkan keterampilan dan kekuatan setiap orang agar tercapai ataupun memenangi tujuan pribadi yang diinginkan.  
Menariknya, kata "Berlomba" ini hanya ada di dalam ayat Al Quran yang kurang lebih berbunyi: "....maka berlomba-lomba lah kamu dalam berbuat kebaikan."
Masya Allah, jadi yang identik dengan makna Kerja Keras yang menghabiskan waktu kita selama hidup itu adalah untuk berbuat Kebaikan di muka bumi ini.  Bukan untuk memenuhi ataupun mencapai nafsu pribadi, goal pribadi, ataupun tujuan pribadi kita masing-masing.

-BP-

SURGA SELUAS LANGIT DAN BUMI ??

Langit dan Bumi sama Luas nya??

Mendengar ayat ini di Al Qur'an bahwa dikatakan "Surga itu adalah seluas Langit dan Bumi", sekilas langsung terpikir bahwa Surga itu sangatlah Luas.  Mengutip artikel blog saya "Dunia Sempit??"... Bukankah semua orang yang beriman meyakini bahwa Surga itu sangatlah Luas.

Tapi pernahkah kita berpikir bahwa mengapa Bumi juga disebut? Sedangkan menurut (katanya sie Ilmuwan bukan Ahli Agama, yang mana namanya Ilmuwan ataupun manusia tidak lepas dari salah), bahwa Bumi itu hanyalah benda sangat kecil di di Alam Semesta Langit yang sangat luas.

Andaikan ilmuwan sekarang benar bahwa Bumi hanya benda kecil di alam semesta, lalu mengapa Allah menyampaikan di Al Qur'an bahwa Surga yang sangat luas yang tidak bisa dibayangkan oleh Manusia itu luasnya seluas Langit dan Bumi.  Mengapa tidak bilang seluas Alam Semesta? Mengapa mendefinisikan Luas itu turut melibatkan Bumi yang kata "Ilmuwan" tadi bumi itu cuma benda kecil di langit?

Apakah maksud dari ayat ini menyebutkan bahwa sebenarnya Bumi itu sangatlas luas dan seluas langit? Sehingga Allah harus menyebut Langit dan Bumi untuk menunjukkan saking luasnya Surga.  Bahwa Langit itu terlihat sangatlah Luas, semua manusia sudah mengakui.  Masalahnya masih sebagian besar Manusia (60% dari total populasi dunia, ratio ini diambil karena sekarang 40% anak sekolah di Amerika sudah yakin dengan pemahaman bahwa bumi itu datar) meyakini bumi itu bulat dan kecil.

Menariknya, bagi "non-ilmuwan" dan tidak harus "Ahli Agama" bisa dengan mudah mencari di Al Qur'an bahwa tidak ada 1 (satu) ayat pun yang menyatakan bahwa Bumi itu bulat.  Sebaliknya banyak sekali ayat di Al Qur'an (sekitar belasan ayat lebih) yang menyatakan bahwa Bumi itu sangatlah Luas dan Datar.  Bahkan sampai diyakinkan lewat salah satu ayat yang menceritakan nanti pada saat Kiamat terjadi dimana Gunung-Gunung diperjalankan dan semua yang ada di muka bumi ini dihancurkan, lalu muncul kelanjutan kalimat di ayat tersebut : "...Dan kamu akan melihat/menyaksikan bahwa Bumi itu Datar."
Seolah-olah ayat ini bilang dan Allah tahu bahwa Manusia sebelum Kiamat terjadi masih banyak yang meyakini bahwa Bumi itu kecil dan bulat, sehingga pada saatnya nanti (di hari kiamat) dibukalah Tabir mata dan Manusia bisa melihat sendiri bahwa Bumi itu Datar.

"Back to Laptop"..bahwa Bumi itu sebenarnya sangat lah Luas...dan Logikanya kalo Bumi tidak Luas, mengapa dijadikan referensi oleh Allah SWT melalui Al Qur'an bahwa Surga itu seluas Langit dan Bumi. Berarti secara logika bahasa, Langit dan Bumi itu sama Luasnya (Luas Bumi adalah seluas Langit). Saya yakin hanya "Flat Earth Believers" yang langsung setuju dengan logika Bumi seluas Langit.

Namun, di saat yang sama saya akui muncul Konflik Batin dan Pikiran bagi sebagian besar manusia yang sudah mentah-mentah mendengar dan melihat gambar Bumi yang dibuat selama ini berbentuk Bulat.  Bila memang bumi berbentuk bulat, maka sudah pasti sebagian besar manusia ini akan sulit memaknai dan mencerna ayat Al Qur'an yang menyatakan bahwa "Surga itu seluas Langit dan Bumi". Mereka akan dengan susah payah mencari makna lain atau arti lain dari ayat tersebut untuk menguatkan alibi bumi bulat yang selama ini membabi buta mereka yakini.
Bukankah Allah sampaikan bahwa Al Qur'an dibuat bagi manusia sebagai petunjuk bagi umat manusia (bukan umat muslim saja) dan sekaligus Mudah Dihafal dan Dipahami oleh siapapun yang berniat Menghafal dan Membaca nya.
Bukankah makna Iqra' (Bacalah) ayat-ayat Allah. Yaitu ayat-ayat Allah yang Tertulis dalam Kitab2 Nya dan ayat-ayat Allah yang telah diciptakan-Nya (yaitu Langit dan Bumi).

-BP-