Senin, 15 April 2019

"Religion & Politics" vs "Money & Politics"

Dibawah ini adalah diskusi menarik antara saya dan sahabat kolega senior yang baik hati dan tidak sombong.

Beliau sempat meng-quote via WA ke nomor saya:
"Potensi adanya “perpecahan Islam di Indonesia” terjadi karena ada yg mencampur Agama dengan Politik.
Juka para pemilih Indonesia punya kedewasaan berpikir, maka kalau sedari awal tidak ada pihak yang tega mencampur Agama dgn Politik (demi apa ya kira2?), maka dengan sendirinya prospek Islam pecah tak kan terjadi.
Yang biang kerok, dan harusnya merasa ‘aib, adalah yg mempolitisasi agama.
Saya pribadi menolak masuk dalam jebakan pihak yg mencampur agama dgn politik, yang mana mereka kemudian mencoba menyudutkan pilihan politik saya dengan dalih demi agama."

Tanggapan saya Pribadi kepada beliau dengan sharing pendapat melalui WA adalah tanpa bermaksud apa-apa, semata-mata merasa kalimat yang beliau sampaikan kurang tepat di hati dan pikiran saya, sehingga perlu saya sampaikan juga pendapat saya mengenai topik "Agama dan Politik".  
Tanggapan saya dan perbincangan beliau dan saya berdua di WA memancing pemikiran logika yang mengalir begitu saja dalam perbincangan tersebut dan menurut saya menarik untuk disimak.

Berikut kelanjutan dari quote WA tsb diatas:

SAYA: 
Sesungguhnya Penyebab "Perpecahan Islam di Indonesia" yg hanya disebabkan karena Faktor Politik adalah bukan karena "mencampur Agama dengan Politik" (yg selama ini sering didengungkan)..namun sesungguhnya "Mencampur Uang dengan Politik (alias Politik Uang") lah yang menjadi PENYEBAB UTAMA tidak hanya Pemecah Umat, namun Perusak Mental Bangsa dan bibit dari segala awal mula  korupsi yang sudah dan akan terus terjadi.

Sebaliknya bila Agama dicampur dengan Politik, maka niat seseorang yg terjun ke dunia politik semata-mata untuk BERIBADAH dan amanah untuk mencari Pahala tertinggi, bukan untuk memperkaya Diri ataupun Golongan tertentu.

Sejelek2 nya pengaruh menggunakan Agama sebagai pilihan Politik, jauh lebih aman dibanding menggunakan Uang sebagai pilihan Politik.

Bila setuju dan berimbang (Apple to Apple) adalah pernyataan "TIDAK SETUJU" mencampur Agama dengan Politik, juga harus "TIDAK SETUJU" mencampur Uang dengan Politik (yg terakhir ini sdh jadi mainstream yg tidak disadari sdh merusak bangsa).

Pemikiran Pribadi,
-BP-

BELIAU:
Uang, Kekuasaan dan Politik sudah tercampur dari 10000 tahun lalu.

SAYA: 
A Logical Thinking of a Human Being shall not be based on what has been happening, but rather what is Right and Beneficial for Human kind for the.sake of a better Life.

BELIAU:
What is Right and What is True (Factual) are two different things.
Any logical and educated person would know at least that much.

SAYA: 
Yes, and the fact is that the Right thing is happening (is a TRUE/FACT now) so the logic always proves things "Right" and "True/Fact" at the same time.
We could understand this easily so long the Logic is not corrupted with emotional conditiion and situation.

BELIAU:
You said it: No emotions.

SAYA: 
Peace๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š
And don't forget that the right thing starts happening "Religion & Politics"๐Ÿ˜‰๐Ÿ‘Œ which is at the same time it is a true and a better competitor to "Money & Politics"...
This "Religion & Politics" should be an Enlightment rather than a Sinicism.
Concluded..

BELIAU:
You say it’s better — world history disagrees.

SAYA: 
That's because the world history that Disagrees has been filled with Corruptors, Tyrans, and Haters...and this is not logic, it is Facts ..and now are we going to keep following the "WRONG FACTS" in the history...or are we going to use our Pure Logic without Emotions? A Logic that favor a better and a beneficial Human Living despite the fact that is now still unpopular...

BELIAU:
Deny the past ...
You call that logical?

SAYA: 
Scrolling up....there is no statement of "Denial of the Past"...I smell a misunderstanding Quote here pak๐Ÿ˜Š

BELIAU:
You mention this:
"That's because the world history that Disagrees has been filled with Corruptors, Tyrans, and Haters...and this is not logic, it is Facts ..and now are we going to keep following the "WRONG FACTS" in the history...or are we going to use our Pure Logic without Emotions? A Logic that favor a better and a beneficial Human Living despite the fact that is now still unpopular..."

SAYA: 
Exactly..no mention of that history as a Logical...but instead is a FACT....
So why am I being asked and concluded the opposite?
Maybe it's time for breakfast๐ŸŒป๐ŸŒป๐Ÿ‘Œ๐Ÿ‘Œ


Above are the discussions and opinions that could comprise the topics about "Religion & Politics" vs "Money and Politics".

Please disregard the last statement in the conversation as the discussion was in the morning, so once it went concluded and at the same time my opinion was misunderstood, then I joked that it might be time for a breakfast. Peace....

Sabtu, 26 Januari 2019

BEKERJA KERAS vs BERUSAHA KERAS ( Bersungguh-Sungguh)

"Kerja Keras mengejar Kesuksesan dan Rejeki..??"

Hampir semua orang setuju bahwa Kerja Keras adalah Wajib demi meraih Kesuksesan dan mendapatkan Rejeki (Kekayaan).  

Namun, lagi-lagi kita sebagai orang biasa (bukan ahli agama) tidak menemukan ayat di Al Quran kata-kata "Kerja Keras", sebaliknya yang sering ditemukan adalah kata-kata "Bersungguh-sungguh" yaitu lebih lebih dekat korelasinya dengan "Berusaha Keras", bukan "Bekerja Keras"...alias lebih condong ke "Usaha" bukan "Kerja".   

Bisa dibilang "Kerja Keras" itu One thing dan "Kesuksesan, Rejeki" itu Another Thing.  Lagi-lagi klo percaya Takdir Allah, maka seyogyanya Kesuksesan, Rejeki itu adalah hasil yang diperoleh. Jika semua itu hasil yang diperoleh, maka pasti ada yang "Maha Memberi" dan "Maha Berkehendak".  

Selain itu, bila Kerja Keras itu adalah syarat untuk sukses, maka pasti akan banyak yang Sukses dan Kaya.

Secara logika bahasa memaknai kata"Keras" ini adalah sesuatu yang pasti dihindari banyak orang.  Dan banyak yang mengartikan "Kerja Keras" sebagai banting tulang kerja siang malam, lembur, dll, yang korelasi arti kerja keras nya secara fisik.  Intinya bila seseorang bekerja keras, maka tidak ada cukup waktu untuk hal lain kecuali "Kerja.  Sungguh sebuah kata yang sangat sempit maknanya.

Sebaliknya kata "Bersungguh-sungguh" memiliki arti yang lebih luas dan dalam.  Kata ini memiliki unsur niat dan usaha untuk hal-hal yang pasti lebih baik.  Tidak mungkin orang mengucapkan kata "Bersungguh-sungguh (berusaha)" untuk hal yang tidak baik. 

Itu sebabnya banyak orang di Dunia (khususnya di Indonesia) yang sebenarnya Pintar, Rajin, dan banyak sekali yang bekerja Keras (bahkan sering kerja lembut meskipun tidak dibayar) namun tidak memberikan hasil yang baik dan bermanfaat.  Bahkan seringkali kerja kerasnya secara sadar dan tidak sadar dilakukan untuk mengambil hak orang lain. Tidak heran masih banyak pejabat pemerintah di Indonesia yang pintar dan bekerja keras melobi berbagai pihak sampai lembur malam, namun ujung-ujungnya Korupsi, mencuri, dan merampas hak-hak orang lain. 

Sebenarnya segala Pekerjaan yang bersifat fisik ataupun waktu kerja itu sudah diatur oleh Allah dan disampaikan melalui ayat Al Qur'an yang kurang lebih berbunyi: "...dan kami jadikan bagimu waktu Siang (terbitnya Matahari) untuk bekerja, dan waktu Malam untuk kamu beristirahat."  

Selain itu ada juga ayat yang berbunyi: "...maka Berjalanlah kamu di muka bumi..."
Jadi dalam hal urusan yang menghabiskan waktu di dunia ini kita tidak disuruh "Berlari" (bisa diartikan bekerja keras), namun disuruh "Berjalan".  Logikanya bila kita menjalani waktu hidup ini dengan berjalan, maka kita akan lebih dapat menikmati proses berjalannya waktu.  Sebaliknya, bila kita berlari dalam melewati waktu hidup ini, maka fokus kita di dunia saat berlari (bekerja lembur, dll) pasti fokus sama hasil yang dituju, dan lupa terhadap proses kiri dan kanan yang harus kita lalui.  Bahkan seringkali saking kerja kerjas dan fokus sama nafsu pribadinya, maka rela mengorbankan segala proses yang dilalui, bahkan seringkali hak orang lain pun dirampas.

Jadi, sebenarnya yang kita perlu lakukan adalah Bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup ini. Bisa juga diartikan sebagai "Berusaha Keras", dan bukan "Bekerja Keras".
Yakni:
Berusaha Keras untuk Sepenuh Hati/PROFESIONAL dalam menjalankan Pekerjaannya.
Berusaha Keras untuk Jujur, 
Berusaha Keras untuk Sabar, 
Berusaha Keras untuk bangun pagi Sholat Subuh di Masjid, 
Berusaha Keras untuk berbuat Baik kepada orang lain meskipun dia memusuhimu, 
Berusaha Keras untuk Bermanfaat bagi Orang Lain, 
Berusaha Keras untuk menentang Kedzaliman dan Kemungkaran, dll yang semuanya bersifat positif yang tujuannya untuk memberikan Kebaikan dan Keselamatan bagi kita semua di Dunia dan Akhirat.

Pada akhirnya, Semua hal-hal baik yang harus kita lakukan selama di dunia ini membutuhkan Kesungguhan (Usaha Keras) untuk istiqomah dalam melakukannya di tengah-tengah godaan mainstream yang salah kaprah dan cenderung membuat kerusakan dan ketidak-seimbangan dalam hidup. 

Hanya ada satu kata di dalam Al Qur'an yang secara fisik mendekati arti Kerja Keras, yaitu "Berlomba". Karena kata "Berlomba" tentunya suatu tindakan atau aksi yang saling mencurahkan keterampilan dan kekuatan setiap orang agar tercapai ataupun memenangi tujuan pribadi yang diinginkan.  
Menariknya, kata "Berlomba" ini hanya ada di dalam ayat Al Quran yang kurang lebih berbunyi: "....maka berlomba-lomba lah kamu dalam berbuat kebaikan."
Masya Allah, jadi yang identik dengan makna Kerja Keras yang menghabiskan waktu kita selama hidup itu adalah untuk berbuat Kebaikan di muka bumi ini.  Bukan untuk memenuhi ataupun mencapai nafsu pribadi, goal pribadi, ataupun tujuan pribadi kita masing-masing.

-BP-

SURGA SELUAS LANGIT DAN BUMI ??

Langit dan Bumi sama Luas nya??

Mendengar ayat ini di Al Qur'an bahwa dikatakan "Surga itu adalah seluas Langit dan Bumi", sekilas langsung terpikir bahwa Surga itu sangatlah Luas.  Mengutip artikel blog saya "Dunia Sempit??"... Bukankah semua orang yang beriman meyakini bahwa Surga itu sangatlah Luas.

Tapi pernahkah kita berpikir bahwa mengapa Bumi juga disebut? Sedangkan menurut (katanya sie Ilmuwan bukan Ahli Agama, yang mana namanya Ilmuwan ataupun manusia tidak lepas dari salah), bahwa Bumi itu hanyalah benda sangat kecil di di Alam Semesta Langit yang sangat luas.

Andaikan ilmuwan sekarang benar bahwa Bumi hanya benda kecil di alam semesta, lalu mengapa Allah menyampaikan di Al Qur'an bahwa Surga yang sangat luas yang tidak bisa dibayangkan oleh Manusia itu luasnya seluas Langit dan Bumi.  Mengapa tidak bilang seluas Alam Semesta? Mengapa mendefinisikan Luas itu turut melibatkan Bumi yang kata "Ilmuwan" tadi bumi itu cuma benda kecil di langit?

Apakah maksud dari ayat ini menyebutkan bahwa sebenarnya Bumi itu sangatlas luas dan seluas langit? Sehingga Allah harus menyebut Langit dan Bumi untuk menunjukkan saking luasnya Surga.  Bahwa Langit itu terlihat sangatlah Luas, semua manusia sudah mengakui.  Masalahnya masih sebagian besar Manusia (60% dari total populasi dunia, ratio ini diambil karena sekarang 40% anak sekolah di Amerika sudah yakin dengan pemahaman bahwa bumi itu datar) meyakini bumi itu bulat dan kecil.

Menariknya, bagi "non-ilmuwan" dan tidak harus "Ahli Agama" bisa dengan mudah mencari di Al Qur'an bahwa tidak ada 1 (satu) ayat pun yang menyatakan bahwa Bumi itu bulat.  Sebaliknya banyak sekali ayat di Al Qur'an (sekitar belasan ayat lebih) yang menyatakan bahwa Bumi itu sangatlah Luas dan Datar.  Bahkan sampai diyakinkan lewat salah satu ayat yang menceritakan nanti pada saat Kiamat terjadi dimana Gunung-Gunung diperjalankan dan semua yang ada di muka bumi ini dihancurkan, lalu muncul kelanjutan kalimat di ayat tersebut : "...Dan kamu akan melihat/menyaksikan bahwa Bumi itu Datar."
Seolah-olah ayat ini bilang dan Allah tahu bahwa Manusia sebelum Kiamat terjadi masih banyak yang meyakini bahwa Bumi itu kecil dan bulat, sehingga pada saatnya nanti (di hari kiamat) dibukalah Tabir mata dan Manusia bisa melihat sendiri bahwa Bumi itu Datar.

"Back to Laptop"..bahwa Bumi itu sebenarnya sangat lah Luas...dan Logikanya kalo Bumi tidak Luas, mengapa dijadikan referensi oleh Allah SWT melalui Al Qur'an bahwa Surga itu seluas Langit dan Bumi. Berarti secara logika bahasa, Langit dan Bumi itu sama Luasnya (Luas Bumi adalah seluas Langit). Saya yakin hanya "Flat Earth Believers" yang langsung setuju dengan logika Bumi seluas Langit.

Namun, di saat yang sama saya akui muncul Konflik Batin dan Pikiran bagi sebagian besar manusia yang sudah mentah-mentah mendengar dan melihat gambar Bumi yang dibuat selama ini berbentuk Bulat.  Bila memang bumi berbentuk bulat, maka sudah pasti sebagian besar manusia ini akan sulit memaknai dan mencerna ayat Al Qur'an yang menyatakan bahwa "Surga itu seluas Langit dan Bumi". Mereka akan dengan susah payah mencari makna lain atau arti lain dari ayat tersebut untuk menguatkan alibi bumi bulat yang selama ini membabi buta mereka yakini.
Bukankah Allah sampaikan bahwa Al Qur'an dibuat bagi manusia sebagai petunjuk bagi umat manusia (bukan umat muslim saja) dan sekaligus Mudah Dihafal dan Dipahami oleh siapapun yang berniat Menghafal dan Membaca nya.
Bukankah makna Iqra' (Bacalah) ayat-ayat Allah. Yaitu ayat-ayat Allah yang Tertulis dalam Kitab2 Nya dan ayat-ayat Allah yang telah diciptakan-Nya (yaitu Langit dan Bumi).

-BP-


DUNIA SEMPIT ??

"Dunia Sempit ya..."

Sudah menjadi kebiasaan bila bertemu seseorang tanpa disengaja, atau bila seseorang yang tidak kita kenal ternyata berhubungan dekat dengan kawan, keluarga, ataupun urusan kita selama ini.

Naudzubillahimindzalik...sungguh itu tanpa sadar adalah ejekan kepada Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta, Maha Mengatur segala sesuatunya di Bumi dan Langit.

Bukankah semua orang yang beriman menyakini bahwa Surga itu sangatlah Luas dan ditegaskan di dalam Al Qur'an bahwa "Surga itu seluas Langit dan Bumi" (dengan asumsi penganut Flat Earth bahwa Bumi bukan sekecil bola bumi...yang kita akan bahas di article lain).
Saking luasnya Bumi, Allah menyuruh setiap Manusia untuk "Berjalan di Muka Bumi" (bukan berlari ya??..kita juga akan bahas hal ini di artikel lain). Dengan berjalan di muka bumi manusia akan melihat kebesaran Allah SWT melalui ciptaannya.

2 Ayat yang menyampaikan 2 kalimat diatas setidaknya sudah bisa dipahami bahwa Bumi itu memang sangatlah luas. Dan semua ciptaan Allah itu pastilah serba "Maha"...Kok tiba-tiba beraninya manusia menggunakan istilah "Dunia Sempit ya" alias Dunia sangatlah Kecil, Saya berusaha untuk mulai mengingatkan dan tidak lagi menggunakan istilah tersebut, karena:

1.  Saya khawatir kata-kata "Dunia Sempit ya" akan sangat menghina Allah yang dengan segala Maha Besar Nya, Maha Kuasa Nya, Maha Ciptaan Nya yang telah menciptakan Bumi, Langit dan segala Makhluk Hidup yang ada di antaranya dengan sangat teliti, teratur, termegah, dan tidak sesuatu apapun yang dapat menyamainya.

2.  Saya juga Khawatir kata-kata "Dunia Sempit ya" yang dilontarkan di saat moment2 takdir kita dipertemukan oleh Allah dengan orang-orang asing yang ternyata dekat dengan kita sebagai "kebetulan belaka" atau "dunia sempit belaka" dan bukan karena "Takdir Allah semata".  Padahal semua umat Muslim Beriman kepada 6 Hal dan salah satunya adalah Beriman kepada Takdir Allah (Qodho dan Qodhar). Dan kejadian-kejadian itu kita meyakini bahwa semua Allah yang mengatur, bukan karena kebetulan. Bahkan disebutkan di Alqur'an bahwa "Daun-Daun yang jatuh dari rantingnya itu juga semua atas seizin Allah"..apalagi segala bentuk kejadian ataupun pertemuan kita dengan orang lain.

Semoga kita sadar "Salah Kaprah" ini...

-BP-